Loading...

Aqidah dan Filsafat Islam Adakan Pengabdian tentang Reaktualisasi Falsafah Jawa di Era Kecerdasan Buatan

Diterbitkan pada
9 Oktober 2026 13:20 WIB

Baca

Klaten - Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (FUD) UIN Raden Mas Said Surakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten tersebut mengangkat tema “Reaktualisasi Falsafah Hidup Jawa untuk Membangun Etika di Era Kecerdasan Buatan”. (1/10/2026)

Kegiatan ini merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat literasi etika, karakter, dan kebijaksanaan peserta didik dalam menghadapi perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Tim pengabdian terdiri atas Prof. Dr. Yusup Rohmadi, M.Hum., dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam; Dra. Hj. Siti Nurlalili Muhadiyatiningsih, M.Hum., dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam; serta Dr. M. Agus Wahyudi, M.Psi., M.Ag., dosen Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi.

Kegiatan dimulai pada pukul 10.00 WIB dengan pembacaan Ummul Qur’an, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Rangkaian pembukaan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Ibu Yayuk Madayani, S.Ag., M.Pd.

Dalam sambutannya, Ibu Yayuk Madayani menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim pengabdian dari Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda yang saat ini berada di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi perlu diikuti dengan kemampuan menggunakan teknologi secara bijaksana. Para siswa tidak hanya membutuhkan keterampilan dalam memanfaatkan berbagai teknologi digital, tetapi juga membutuhkan landasan nilai dan etika agar perkembangan teknologi dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.

“Tema pengabdian ini sangat penting sebagai bekal bagi para siswa madrasah dalam menghadapi kemajuan teknologi. Para siswa tidak hanya perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkannya,” ungkapnya.

Mewakili tim pengabdian dari UIN Raden Mas Said Surakarta, Dra. Hj. Siti Nurlalili Muhadiyatiningsih, M.Hum., menyampaikan sambutan sekaligus pengantar mengenai pentingnya menggali kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Menurutnya, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan nilai-nilai kebijaksanaan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Falsafah hidup Jawa, lanjutnya, mengandung berbagai nilai tentang keselarasan, pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, tanggung jawab, dan kehidupan bersama. Nilai-nilai tersebut tetap memiliki relevansi ketika manusia menghadapi berbagai perubahan akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Ia menjelaskan bahwa reaktualisasi falsafah Jawa bukan berarti membawa masyarakat kembali kepada masa lalu, melainkan menggali nilai-nilai yang relevan untuk menjawab persoalan kehidupan masa kini. Dalam konteks pendidikan, nilai-nilai tersebut dapat menjadi fondasi pembentukan karakter peserta didik agar mampu menghadapi perkembangan teknologi dengan tetap memiliki orientasi moral.

Materi kemudian disampaikan oleh Prof. Dr. Yusup Rohmadi, M.Hum. Ia mengajak para siswa untuk memahami kembali falsafah Jawa sebagai sumber kebijaksanaan dalam membangun kehidupan yang harmonis. Salah satu prinsip yang menjadi perhatian adalah ungkapan “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta Dur Hangkara.”

Menurut Prof. Yusup, Memayu Hayuning Bawana dapat dipahami sebagai upaya menjaga, memperindah, dan menciptakan kemaslahatan bagi kehidupan. Sementara Ambrasta Dur Hangkara mengandung pesan untuk menghilangkan sifat-sifat buruk, kesombongan, dan dorongan egoistik yang dapat merusak kehidupan.

Nilai tersebut sangat relevan dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan. AI pada dasarnya merupakan teknologi yang dapat membantu manusia dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, pekerjaan, komunikasi, hingga pengembangan pengetahuan. Namun, kemampuan teknologi yang semakin besar juga membutuhkan tanggung jawab manusia yang semakin besar pula.

Karena itu, kecerdasan teknologi harus diimbangi dengan kecerdasan etis. AI dapat membantu manusia mengolah informasi dan menghasilkan berbagai keluaran, tetapi manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan. Prinsip Memayu Hayuning Bawana dapat menjadi orientasi agar teknologi dimanfaatkan untuk kemaslahatan, sedangkan Ambrasta Dur Hangkara menjadi pengingat agar manusia tidak menggunakan teknologi untuk memenuhi kesombongan, kepentingan egoistik, manipulasi, maupun tindakan yang merugikan orang lain.

Sementara itu, Dr. M. Agus Wahyudi, M.Psi., M.Ag., menyampaikan perspektif mengenai hubungan falsafah Jawa dan tasawuf dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, kemampuan digital perlu diimbangi dengan penguatan karakter dan kematangan batin. Falsafah Jawa dan tasawuf memiliki titik temu dalam pengendalian diri, kesadaran batin, keseimbangan hidup, dan orientasi pada kemaslahatan.

“Teknologi boleh semakin cerdas, tetapi manusia harus tetap memiliki akhlak. AI dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi keputusan mengenai apa yang baik dan benar tetap membutuhkan kesadaran moral manusia,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perspektif tasawuf menekankan pentingnya pengendalian hawa nafsu dan pembentukan akhlak agar manusia tidak menjadi bergantung secara berlebihan pada teknologi. Karena itu, pendidikan di era AI perlu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga matang secara moral, emosional, dan spiritual.

Kegiatan tersebut mendapat antusiasme dari para siswa MA Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten. Melalui kegiatan ini, FUD UIN Raden Mas Said Surakarta mendorong reaktualisasi nilai-nilai falsafah Jawa dan tasawuf sebagai landasan etis agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab.