Loading...

Diskusi Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Bahas Eklesiologi Dalam Nostra Aetate

Diterbitkan pada
16 Oktober 2026 10:16 WIB

Baca

Surakarta, 16 Oktober 2026 – Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta menyelenggarakan diskusi dosen bertajuk “Meneropong Eklesiologi Dalam Dokumen Nostra Aetate” di Aula Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Jumat (16/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Tri Yuliana Wijayanti, M. P. I., dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam dengan moderator Fian Rizkyan Surya Pambuka, S.Ag., M.Psi.

Dalam pemaparannya, pembicara yang akrab disapa Lya tersebut menyampaikan bahwa sejarah kelahiran Nostra Aetate berawal dari munculnya gelombang anti semitisme baru (telah memuncak dalam genosida di masa Hitler) mendesak kaum Yahudi sekitar tahun 1950 untuk memohon kepada Seri Paus agar Gereja berusaha memperbaiki pendapat umum tentang bangsa Yahudi. Pada tahun 1960 sekretariat Kesatuan Kristen yang didirikan pada 5 Januari 1960 dengan Ketua Kardinal Bea menerima tugas untuk menyusun suatu Pernyataan Tentang Yahudi. Selanjutnya berbagai delegasi Yahudi mengunjungi Paus Yohannes XXIII, yakni Bani B’rith dari Perancis pada 3 Juli 1960, United Jewish Appeal pada 17 Oktober 1960, dan American Jewish Committee pada tahun 1961. Mereka membawa dokumentasi tentang penilaian negatif Gereja mengenai bangsa Yahudi sebagaimana tersebar dalam buku pelajaran agama dan dalam liturgi. Pemakaian kata-kata seperti decidium (pembunuhan Tuhan), catechismus romanus dan perfidi Judaei (Yahudi berkhianat) sangat disesalkan. Buku-buku Yahudi juga tidak bersih dari anti Kristiani. Oleh karena itu, kedua belah pihak saling berjanji untuk mengakhiri intoleransi dan memperbaiki tulisan-tulisan tersebut.

Nostra Aetate (bahasa Latin untuk “Zaman Kita”) sendiri merupakan yang terlahir dalam Konsili Vatikan II dan dideklarasikan pada 28 Oktober 1965. Nostra Aetate merupakan tonggak awal sekaligus satu-satunya dokumen Gereja Katolik yang mana Gereja memberikan perhatian yang besar terkait sikapnya terhadap agama-agama bukan Serani (khususnya Hindu, Budha, Islam). Dalam tugasnya memajukan kesatuan dan cinta kasih di antara manusia dan antar bangsa, maka Gereja dalam naskah ini menyatakan perhatiannya terhadap faktor-faktor yang mempersatukan manusia satu dengan yang lain serta faktor-faktor yang memperkokoh kesatuan itu.

Lya juga menyoroti tentang sejarah hubungan Gereja Katolik dengan Islam yang sangat panjang dan penuh liku. Sejarah tersebut bermula sejak pra-perang salib yang mana guna mencegah perkembangan Islam yang sangat pesat di Eropa, maka Eropa Kristen membangun brikade mental dengan menanamkan sikap kebencian terhadap Islam melalui penyebarluasan fitnah terhadap Islam. Tokoh-tokoh yang berhasil menanam kebencian terhadap Islam, seperti: Johanes Damascendi, Theofanes Confessor, Nicotas Byzantius, Prideaux, Rudolf de Ludheim, Nicolas de Cuse, Vives, Marracei, Bibliander, dan Hotingger. Di bawah pengaruh propaganda yang begitu masif, Islam dideskritkan dan digambarkan sebagai agama yang rendah derajatnya dengan akhlak kesusilaan yang rendah pula.

Ketika seluruh kerajaan besar Eropa sudah berada di bawah pengaruh Vatikan dan secara emosi dipenuhi semangat kebencian yang mendalam terhadap Islam sudah merata dan mendalam di hati masyarakat, maka dimulailah tahap kedua yakni penghancuran  Islam melalui konfrontasi fisik. Hal ini diawali dengan pidato agritase Paus Urbanus II di kota Clermont, pada tanggal 26 Nopember 1095. Berkat pidato tersebut, seluruh Eropa pun bersatu dalam missi suci menghancurkan Islam dengan dalih membebaskan Kota Suci Jerusalem.

Tahap ketiga yakni tahap kolonialisme dan imperialisme. Daulat Islam yang sudah tegak dan berkembang selama 7 abad di Andalusia pada akhir abad XV berhasil dihancurkan oleh Raja Ferdinand dari Arogan dan Ratu Isabella dari Castllia. Kesemua sejarah peradaban Islam di Semenanjung Siberia hancur bersamaan dengan dihancurkannya pusat-pusat ilmu pengetahuan yang mana sebagai tempat para mahasiswa dari seluruh penjuru Eropa menuntut ilmu selama itu. Semua umat Islam yang  dikalahkan di Andalusia hanya mendapat pilihan untuk memeluk agama Kristen atau menjalani hukuman mati.

Masa ini diperkuat dengan adanya penemuan jalan laut oleh Vasco de Gama pada 9 Juli 1447 dan Christopher Colombus pada 3 Agustus 1492 adalah awal dari usaha penghancuran peradaban Islam yang terus  berlangsung sampai awal abad ke XX. Penaklukan negeri-negeri Islam di Afrika-Asia satu demi satu dilakukan yang dipelopori oleh Spanyol dan Portugis, kemudian disusul oleh Inggris, Belanda, Belgia, Perancis, dan Italia. Gerakan ekspansi itu, selain karena motif ekonomi juga tidak disangkal memiliki motif keagamaan untuk menaklukkan dan menjajah atas nama tugas suci orang kulit putih terhadap bangsa- bangsa kulit berwarna (the white man’s burden).

Tahap keempat adalah tahap orientalisme. Gereja menyadari bahwasanya upaya misionaris harus sesuai dengan kemajuan berfikir dan perkembangannya ilmu pengetahuan di Eropa. Oleh karena itu, dunia Kristen Barat menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan dunia Islam. Dikembangkannya ilmu ketimuran terutama dari segi keislaman (orientalis) ternyata sangat membantu memperlancar usaha dan aktivitas missionaris. Orientalis mempelajari Al-Qur’an, biografi Nabi Muhammad saw, dan ajaran Islam untuk menemukan sisi kelemahan dan kekurangannya. Akan tetapi sifat dari ilmu pengetahuan itu sendiri adalah netral, tidak memihak, dan terfokus pada fakta. Demikianlah akhirnya berkat jasa orientalis jugalah, Eropa sedekit demi sedikit membuka tabir kegelapannya terhadap Islam. Eropa belajar menghilangkan sikap apriorinya terhadap Islam. Demikian juga dendam kesumat yang ditanamkan beradab-adab itu. Pandangan Eropa terhadap Islam mulai membaik sejak awal abad XVIII. Saat ini Islam menjadi agama dengan jumlah pengikut nomer dua terbanyak di Eropa. Tahap ke lima, tahap komunikasi. Tahap ini merupakan tahap awal dimana Gereja mulai menunjukkan sikap hidup berdampingan dan saling menghormati dengan penganut agama lain, termasuk Islam.

Diskusi ini ditutup dengan pembacaan kutipan yang ditulis Dr. F.L. Bakker yang merupakan seorang teolog dan sejarawan gereja Barat mengatakan bahwa “memang benar, di sepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara Umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili vatikan II dalam Nostra Aetate mendorong semua supaya melupakan yang sudah-sudah dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan”.

(Red: Lya, Foto : Krisbowo)