Loading...

Tantangan Era Digital, Mahasiswa KKL Diajak Tampil Kreatif dan Mampu Ciptakan ‘Exposure’

Diterbitkan pada
15 Oktober 2026 12:00 WIB

Baca

Di era informasi yang bergerak sangat cepat, keberhasilan sebuah kegiatan akademik seperti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tidak lagi hanya diukur dari apa yang dilakukan secara fisik di lapangan, melainkan juga dari sejauh mana kegiatan tersebut dipublikasikan dan membawa manfaat bagi publik luas. Hal inilah yang disampaikan oleh Founder Indonesia Digital Creator (IDC), Muhammad Husain Sanusi, S.Th.I, saat memberikan materi dalam acara Pembekalan Kuliah Kerja Lapangan yang digelar di Aula FUD Lantai 2 pada Selasa (6/10/2026).   

Dalam pemaparannya, Husain menyoroti perubahan mendasar pada lanskap komunikasi masyarakat saat ini. Pergeseran pola penyampaian pesan dari satu arah ke banyak orang (one-to-many) menjadi antarindividu (many-to-many) menuntut setiap orang untuk menjadi produsen informasi. Ia menekankan bahwa jika dahulu ada istilah tak kenal maka tak sayang, kini situasinya berubah menjadi tak kenal maka terpental. Menurutnya, sebuah kegiatan KKL yang tidak mampu menghasilkan karya viral secara tidak langsung sama saja dengan tidak melaksanakan KKL, karena kegagalan utama suatu kegiatan zaman sekarang adalah ketika keberadaannya tidak diketahui oleh masyarakat luas.   

Peran media massa konvensional dalam mengarahkan perhatian publik kini telah banyak tergantikan oleh algoritma media sosial. Algoritma tersebut bekerja berdasarkan minat individual, sehingga keterlibatan dan interaksi audiens menjadi faktor penentu utama agar sebuah pesan dapat menyebar secara luas. Kendati demikian, Husain mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya berfokus pada keviralan semata tanpa memperhatikan kualitas isi. Konten kegiatan KKL memang sebaiknya tidak dikemas secara kaku agar peluang viralnya lebih besar, namun tetap wajib mengandalkan nilai serta manfaat di dalamnya.   

 

Untuk membangun reputasi yang kuat, mahasiswa perlu merancang strategi branding sejak awal sebelum diterjunkan ke lapangan. Proses ini dimulai dari perencanaan yang matang, pembentukan identitas yang memberi makna pada setiap program kerja, hingga komunikasi intensif yang konsisten. Komunikasi tersebut nantinya akan melahirkan persepsi publik yang pada akhirnya membentuk reputasi digital di berbagai media sosial. Kunci utama dari seluruh rangkaian proses ini adalah memastikan narasi yang dibuat benar-benar relevan dan terhubung dengan target audiens.   

Sesi pembekalan berlangsung makin interaktif saat mahasiswa menanyakan strategi agar kegiatan observasi dan program KKL mereka mendapatkan sorotan dari media massa arus utama. Menanggapi hal tersebut, Husain menjelaskan adanya perbedaan sudut pandang antara media konvensional yang menyukai hal-hal penting dan generasi muda yang lebih tertarik pada hal-hal menarik. Melalui pembekalan ini, para mahasiswa diharapkan tidak hanya siap mengeksekusi program kerja di lokasi penugasan, tetapi juga terampil mengemas narasi positif serta membangun reputasi digital yang berdampak nyata bagi masyarakat.