
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu komponen penting dalam kurikulum pendidikan diUniversitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta. Program ini dirancang untuk memberikan mahasiswa pengalaman langsung di lapangan, sehingga mereka dapat mengaplikasikan teori yang dipelajari di bangku kuliah ke dalam praktik nyata. Pada tahun 2025, kelompok kami yang terdiri dari empat mahasiswa, yaitu Khofifah IndarParawansa, Candra Dewi Prasetyaningrum, Aulia Febrian Damayanti, dan Wardatul Hanifah, diberikan kesempatan untuk melaksanakan PPL di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Serengan, Kota Surakarta. Periode pelaksanaan berlangsung dari tanggal 20 Oktober hingga 21 November 2025, selama kurang lebih satu bulan penuh.
KUA Kecamatan Serengan merupakan salah satu lembaga pemerintah di bawah Kementerian Agama yang bertanggung jawab atas urusan keagamaan, khususnya dalam bidang pernikahan, administrasi agama, dan kegiatan sosial keagamaan di wilayah Serengan, Surakarta. Lokasi ini dipilih karena relevansinya dengan jurusan kami, yaituPendidikan Agama Islam, yang memungkinkan kami untuk belajar tentang implementasi hukum Islam dalam konteksmasyarakat modern. Dosen pembimbing lapangan awalnya adalah Alm. Prof. Dr. H. Imam Sukardi, M.Ag.,. Namun, karena beliau telah berpulang ke rahmatullah, tugas pembimbingan dialihkan kepada Bapak Krisbowo Laksono, S.Ud., M.Hum., yang dengan penuh dedikasi menggantikan peran tersebut. Bapak Krisbowo memberikan bimbingan yang intensif, memastikan bahwa kegiatan kami berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Selama PPL, kami terlibat dalam berbagai kegiatan yang mencakup aspek bimbingan pernikahan, administrasi,pengarsipan, serta partisipasi dalam program-program sosial keagamaan. Pengalaman ini tidak hanya memperkayapengetahuan kami tentang operasional KUA, tetapi juga membentuk karakter kami sebagai calon pendidik dan praktisi agama. Dalam laporan ini, kami akan menguraikan secara lengkap dan deskriptif setiap kegiatan yang kami ikuti, mulai dari persiapan awal hingga refleksi akhir. Kami berharap laporan ini dapat memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika kehidupan di KUA Serengan dan manfaat PPL bagi pengembangan diri mahasiswa.
Salah satu kegiatan utama yang kami ikuti adalah bimbingan pernikahan, yang merupakan inti dari tugas KUA. Kami dibimbing oleh staf KUA untuk menyaksikan seluruh prosesi pernikahan, mulai dari persiapan sebelum akad hingga akad nikah berakhir. Pada hari pertama kedatangan kami, tanggal 20 Oktober 2025, kami diperkenalkan dengan ruang bimbingan pernikahan yang terletak di bagian depan kantor. Ruangan ini sederhana namun penuh dengan nuansa kehangatan, dengan kursi-kursi kayu yang tersusun rapi dan poster-poster tentang pentingnya pernikahan dalam Islam.
Prosesi dimulai dengan wawancara pra-nikah antara calon pengantin dan petugas KUA. Kami duduk di sudut ruangan, mengamati bagaimana petugas dengan sabar menanyakan latar belakang keluarga, pendidikan, dan komitmen kedua belah pihak. Suasana terasa intim dan mendidik; calon pengantin sering kali tampak gugup, namun petugas dengan bijak memberikan nasihat berdasarkan ajaran Islam. Salah satu momen yang berkesan adalah ketika kami menyaksikan prosesi akad nikah. Imam KUA memimpin akad dengan suara lantang dan penuh khidmat, sementara calon mempelai pria mengucapkan "saya terima nikahnya" dengan tangan gemetar. Setelah akad, suasana berubah menjadi meriah dengan doa bersama dan ucapan selamat.
Melalui kegiatan ini, kami belajar tentang pentingnya bimbingan pra-nikah dalam mencegah konflik rumahtangga. Kami juga diajarkan untuk menghargai keragaman budaya lokal, seperti tradisi Jawa yang sering kali menyatu dengan ritual Islam. Bapak penghulu sering kali memberikan penjelasan tambahan, menekankan bahwa bimbingan ini bukan sekadar formalitas, melainkan upaya untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Selain bimbingan pernikahan, kami juga terlibat dalam tugas administrasi sehari-hari. KUA Serengan menangani ribuan dokumen pernikahan setiap tahunnya, sehingga pengelolaan administrasi menjadi sangat krusial. Kami diberikan tugas untuk mengelola berkas-berkas seperti surat nikah, akta kelahiran, dan laporan bulanan. Kami mulai dengan belajar cara mengorganisir arsip di ruang administrasi yang agak sempit namun teratur. Rak-rak besiberisi map-map kuning tua, masing-masing berlabel dengan nama dan tanggal pernikahan.
Tugas utama kami adalah menginput data arsip pernikahan lama ke dalam sistem digital. Ini merupakan pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, karena banyak arsip yang sudah usang dan tulisannya samar-samar.Kami duduk di depan komputer tua dengan layar monitor yang berkedip-kedip, mengetik data satu per satu. Salah satutantangan adalah ketika kami menemukan
arsip dari tahun 1990-an, di mana tinta sudah pudar dan kertasnya rapuh. Kami harus hati-hati agar tidak merusak dokumen bersejarah tersebut. Proses ini memakan waktu berjam-jam, namun memberikan kami pemahaman mendalam tentang pentingnya digitalisasi dalam era modern.
Selain tugas internal, kami diikutsertakan dalam berbagai kegiatan sosial keagamaan yang diselenggarakan oleh KUA Serengan. Pertama, kami turut serta dalam kegiatan Collaboration & Tolerance Center Gebyar Pusaka KUA Serengan. Acara ini merupakan festival budaya yang mempromosikan toleransi antara gama, diadakan di halamankantor. Suasana acara sangat meriah, karna kami melaksanakan senam dengan penuh semangat. Kami berinteraksidengan peserta dari berbagai latar belakang, belajar tentang pentingnya dialog antaragama dalam membangun harmoni sosial.
Kedua, kami diikut sertakan dalam Sarasehan Kampung Moderasi Beragama (KMB). Acara ini diadakan di sebuah balai desa di Kratonan, dengan tema moderasi beragama di tengah pluralitas masyarakat. Kami duduk di barisan depan, mendengarkan pemaparan dari narasumber seperti ulama lokal dan tokoh masyarakat. Diskusi berlangsung hangat, membahas tantangan radikalisme dan cara mengedepankan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Kami turut berpartisipasi dengan memberikan pandangan sebagai mahasiswa, merasa bahwa pengalaman ini memperkuat komitmen kami terhadap toleransi.
Ketiga, kami turut berpartisipasi di Program GEMARI SOLO (Gerakan Rumah Ibadah Berseri Solo), yang diselenggarakan oleh IPARI Kota Surakarta (Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia) di Kantor Kementerian Agama Kota Surakarta. Pada hari tersebut, kami berkunjung ke Masjid Laweyan, di mana kami belajar tentang program pemberdayaan rumah ibadah untuk menjadi pusat kegiatan sosial. Kebetulan saat itu giliran bersih-bersihmasjid setelah sebulan lalu bersih-bersih gereja. Sebagai bagian dari perluasan wawasan, kami diikutsertakan dalam kegiatan penyuluhan di luar KUA. Kami mengunjungi Pondok Pesantren Darud Dzikri di Kelurahan Joyontakan.
Lalu kami mengunjungi Mushola Al Ikhlas di Tanggul Dawung. Mushola kecil ini terletak di pinggir sungai. Interaksi dengan mereka yang hangat dan ramah mengajarkan kami tentang pentingnya pendekatan personal dalamdakwah. Kedua kegiatan ini memperluas perspektif kami, menunjukkan bahwa peran KUA tidak terbatas pada kantor,melainkan meluas ke masyarakat luas.
Selama satu bulan di KUA Serengan, kami tidak hanya belajar tentang tugas teknis, tetapi juga tentang nilai-nilai kehidupan. PPL ini juga membuka mata kami tentang realitas masyarakat Surakarta, di mana agama dan budaya saling menyatu. Kami merasa bahwa pengalaman ini telah membekali kami dengan keterampilan praktis yang akan berguna di masa depan, baik sebagai pendidik maupun praktisi agama.
Pada hari terakhir Praktik Pengalaman Lapangan kami, tanggal 21 November 2025, suasana di Kantor UrusanAgama (KUA) Kecamatan Serengan terasa hangat dan penuh emosi saat kami berkumpul di ruang utama kantor untuk berpamitan. Dengan hati yang penuh rasa syukur, kami—Khofifah Indar Parawansa, Candra Dewi Prasetyaningrum, Aulia Febrian Damayanti, dan Wardatul Hanifah—mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh karyawan KUA atas bimbingan, dukungan, dan kesempatan berharga yang telah diberikan selama satu bulan penuh.Pengalaman menyaksikan prosesi pernikahan, mengelola administrasi, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatansosial keagamaan telah memperkaya pengetahuan dan keterampilan kami, dan kami sangat menghargai . Di sisi lain, kami mohon maaf atas segala kesalahan, kekurangan, atau ketidaknyamanan yang mungkin telah kami timbulkanselama masa PPL ini, baik dalam tugas sehari-hari maupun interaksi kami. Semoga pengalaman ini menjadi kenangan indah bagi kita semua, dan kami berpamitan dengan harapan agar KUA Serengan terus menjadi pusat pelayanan keagamaan yang berkualitas, serta kami berdoa agar seluruh karyawan selalu diberi kesehatan, keberkahan, dan kesuksesan dalam menjalankan tugas mulia ini. Terima kasih sekali lagi, dan sampai jumpa di lain waktu.
PPL Mahasiswa Prodi AFI 2025 di Pondok Pesantren Ummul Qurok Boyolali
3 bulan yang lalu - Umum