Loading...

Workshop HMPS AFI “The Mother of Sciences: Mengapa CEO Dunia Justru Belajar Filsafat?”

Diterbitkan pada
5 Juni 2026 11:48 WIB

Baca

Surakarta, 5 Juni 2026 – Himpunan Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Fisafat Islam, menyelenggarakan kegiatan Workshop betema “The Mother of Sciences: Mengapa CEO Dunia Justru Belajar Filsafat?”di Aula Rektorat Lantai 3 pada Jum’at, 5 Juni 2026 (08.00-15.30). Kegiatan Workshop ini menghadirkan narasumber kompoten di bidangnya, yaitu Dr. Mibtadin, S.Fil.I,. M.S.I. selaku dosen Universitas Sebelas Maret dan Fudhail Nuril Huda, Lc. Selaku alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Acara dibuka oleh M. Ghani dan Kirani Eka Safitri selaku MC Workshop. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Dapri. Dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Wakil Dekan III, Kepala Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Ketua Panitia, Ketua Umum HMPS AFI. Dalam sambutannya, Arsyadani Ahmad -Ketua Panitia- menyampaikan bahwa, “Kami sangat bersyukur workshop ini berjalan dengan baik dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang intelektual yang mendorong mahasiswa berpikir kritis, reflektif, dan mampu melihat relevansi dalam kehidupan modern.”

Workshop ini diselenggarakan sebagai Upaya untuk memperkenalkan relevansi filsafat dalam kehidupan modern, khususnya dalam bidang kepemimpinan, pengambilan Keputusan, dan pengembangan kemampuan berpikir kritis. Tema yang diangkat terinspirasi dari fenomena global yang menunjukkan bahwa banyak pemimpin Perusahaan dunia memanfaatkan pendekatan filosofis dalam menghadapi tantangan dan kompleksitas pengambilan Keputusan.

Dalam sesi pertama, Dr, Mibtadin, S.Fil.I., M.S.I. menyampaikan materi mengenai pentingnya filsafat sebagai fondasi kepemimpinan dan pemikiran kritis. Beliau menekankan bahwa kemampuan berpikir analitis, reflektif, dan etis merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan dunia modern. Sementara itu, pada sesi kedua, Fudhail Nuril Huda, Lc. Mengulas tradisi intelektual Islam serta relevansinya bagi pemimpin masa depan. Ia mengajak peserta untuk menggali Khazanah pemikiran Islam sebagai sumber inspirasi dalam menjawab berbagai persoalan kontemporer.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya sesi tanya jawab yang berlangsung pada kedua sesi materi. Berbagai pertanyaan dan diskusi berkembang mengenai relevansi filsafat Islam di era kecerdasan buatan, penerapan nilai-nilai filosofis dalam dunia professional, serta peran tradisi intelektual Islam membangun kepemimpinan yang berintegritas.

Sebagai penutup, peserta mengikuti Forum Grup Discussion (FGD) yang dibagi menjadi beberapa kelompok. FGD membahas penerapan fisafat dalam organisasi mahasiswa, relevansi filsafat Islam di era digital, Pembangunan identitas intelektual muslim, serta strategi mengintegrasikan kajian filsafat dengan kebutuhan dunia kerja. Kegiatan ini menghasilkan berbagai refleksi dan rekomendasi yang memperkaya pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan.

Melalui kegiatan ini, HMPS AFI berharap workshop tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana penguatan budaya berpikir kritis, dialog intelektual, dan pengembangan wawasan mahasiswa dalam menghadapi tantangan masa depan.